Harapan

Ramadhan berakhir seperti senja yang memudar perlahan, tidak dengan satu pukulan gong, tetapi dengan bisikan lembut yang meresap ke dalam hati. Setiap tahun, aku berdiri di ambang malam terakhir ini dengan perasaan yang sama: antara kesedihan yang menggumpal di dada dan kegembiraan yang mengalir di nadi. Seperti seseorang yang telah menghabiskan sebulan di sebuah rumah yang begitu hangat dan damai, lalu tiba-tiba harus pergi, aku merasa kehilangan.

Di hadapanku, Nana istriku duduk dengan hijab abu - abunya, memeluk erat Iliana anak kami yang memakai kacamata hijau lucu dan piyama bermotif. Mereka duduk di atas tikar hijau bermotif, di bawah pohon rindang dengan lampu-lampu yang berkedip di sekitar kami. Tawa riang Iliana terdengar di tengah suasana malam yang tenang, sementara mobil sesekali melintas di jalan.

Di meja makan rumah, sisa-sisa kurma masih tersimpan dalam toples, seperti kenangan yang enggan pergi. Gelas-gelas berembun masih mengandung sisa dinginnya air yang menjadi penyegar dahaga saat berbuka. Dapur penuh dengan aroma masakan yang lebih istimewa dari biasanya, karena ini adalah malam yang menandai perpisahan dan penyambutan sekaligus.

Aku menatap langit, mencari hilal, bukan hanya sebagai tanda pergantian bulan, tetapi sebagai simbol transisi dari sebuah perjalanan spiritual menuju kehidupan yang kembali biasa. Malam ini aku duduk di dekat Nana dan Iliana, membiarkan pikiranku berkelana. Aku mengingat malam-malam sebelumnya, ketika suara tadarus masih bergema dari masjid-masjid, ketika langkah kaki menuju tarawih masih terasa ringan.

Ramadhan selalu datang membawa ketenangan, lalu pergi meninggalkan rindu. Ada sesuatu dalam bulan ini yang tidak bisa ditemukan dalam waktu lain: keintiman dengan keluarga, dengan doa-doa yang lebih dalam, dengan malam-malam yang terasa lebih sunyi tetapi juga lebih bermakna.

Besok adalah Idulfitri. Sebuah awal baru. Sebuah perayaan yang tidak hanya tentang kemenangan setelah sebulan berpuasa, tetapi juga tentang harapan yang diperbarui. Esok pagi, takbir akan menggema, menggetarkan langit dan bumi. Akan ada pelukan dari keluarga, senyum dari Nana dan Iliana, dan sapaan yang hangat dari mereka yang mungkin selama ini jarang bertemu.

Aku teringat sesuatu: hidup selalu berjalan dalam siklus kehilangan dan pertemuan, perpisahan dan penyambutan. Ramadhan mungkin berlalu, tetapi harapan yang dibawanya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap ada dalam setiap sujud yang lebih khusyuk, dalam setiap kebaikan yang lebih tulus, dalam setiap niat yang lebih ikhlas.

Malam ini, kunikmati momen berharga bersama Nana dan Iliana di bawah langit malam kota yang ramai namun damai. Kacamata hijau Iliana memantulkan cahaya lampu jalan, sementara pelukan hangat Nana mengingatkanku bahwa inilah makna sesungguhnya dari Ramadhan—kebersamaan dan kasih sayang yang tulus.​​​​​​​​​​​​​​​​