Dari balik kaca mobil yang berembun, lorong sempit Baluwarti menyeruak bagai urat nadi kota yang tak pernah tidur. Malam di Surakarta selalu menyimpan cerita yang tak terucap, seperti sejarah yang tertahan di dinding-dinding putih yang kini menguning dimakan waktu. Para pengendara motor bergerak bagai kunang-kunang merah, lampu sein dan rem mereka menari-nari dalam kegelapan yang akrab, menciptakan aliran cahaya yang hipnotis di antara bayangan tembok keraton yang menjulang.
Di bawah langit malam yang pekat tanpa bintang, lorong-lorong Baluwarti menjadi saksi bisu kehidupan yang terus bergerak tanpa henti. Sepeda motor yang berjejer dan saling mendahului, mobil-mobil yang melata perlahan di jalan sempit, semua bergerak dalam ritme kehidupan yang tak pernah kita sadari betapa rapuhnya—tak jauh berbeda dengan jalan-jalan di Bangkalan tempat Mauludatul Islami melintasi takdirnya pada Kamis pagi itu.
Dalam keremangan lorong Baluwarti, aku teringat kisah Mauludatul, gadis berhijab yang mengenakan jaket almamater biru UTM, mengendarai motornya dengan penuh harapan menuju KPP Pratama Bangkalan. Mungkin seperti pengendara-pengendara di depanku ini, ia juga memikirkan tugas-tugas yang menanti, tersenyum membayangkan kehidupan yang masih panjang di hadapannya. Tidak pernah terbersit dalam benaknya bahwa pada pukul 07.30 WIB itu, di dekat Masjid Burneh, takdirnya akan berbelok tajam saat sebuah mobil Carry menghantam motornya dan sang pengemudi justru melarikan diri meninggalkan tubuhnya yang tergeletak di aspal.
Tembok-tembok putih Baluwarti yang berdiri kokoh selama berabad-abad telah menyaksikan ribuan kehidupan lahir dan mati. Mereka berdiri tegak, tak tergerus oleh waktu, menyimpan kisah-kisah manusia yang datang dan pergi. Seperti dinding-dinding RSUD Bangkalan yang menjadi saksi bisu perjuangan Mauludatul melawan maut selama tiga hari penuh—dinding-dinding yang mendengar bisikan doa dari bibir keluarganya, yang menyaksikan air mata dan harapan yang bergantian mengisi ruang ICU.
Di salah satu tikungan Baluwarti, lampu jalan yang redup menciptakan semburat kuning pada tembok bersejarah. Cahaya remang-remang itu mengingatkan pada lampu-lampu ruang operasi yang menyala selama berjam-jam ketika dokter berusaha menyelamatkan Mauludatul. Mereka berjuang melawan pendarahan otak yang mengancam hidupnya, mencoba mengendalikan pembengkakan yang terus meluas, seperti ombak yang tak bisa dibendung. Lampu-lampu itu adalah harapan terakhir dalam kegelapan, seperti lampu sein motor-motor di depanku yang berkedip dalam gelap malam Surakarta.
Mobilku bergerak perlahan di belakang iring-iringan kendaraan yang merayap di gang sempit Baluwarti. Speedometer menunjukkan angka yang hampir tak bergerak, seolah waktu melambat di kawasan keraton ini. Waktu yang melambat, seperti 48 jam terakhir kehidupan Mauludatul di ruang ICU—detik demi detik yang diisi dengan doa dan harapan. Ibu Retno dengan wajahnya yang teduh dan suaranya yang menenangkan, Ibu Linda yang tak henti-hentinya menawarkan bantuan, dan Bapak Fajar yang dengan tegas namun penuh kelembutan memastikan keluarga Mauludatul mendapat segala dukungan dari DJP. Mereka semua, seperti pengendara-pengendara di lorong Baluwarti ini, adalah manusia-manusia dengan cerita dan kepedulian, bergerak dalam arus kehidupan yang kadang tak terduga.
Di perempatan kecil dengan pohon beringin tua yang menyaksikan pergantian zaman, cahaya lampu kendaraan menciptakan bayangan-bayangan yang menari di tembok putih. Bayangan-bayangan itu seperti kenangan tentang Mauludatul yang kini hanya tinggal dalam ingatan—gadis cerdas yang bercita-cita tinggi, relawan pajak yang tekun, putri yang berbakti pada orangtua, dan jiwa muda yang dipanggil terlalu cepat. Bayangan-bayangan itu bergerak, tumpang tindih, lalu menghilang, seperti kehidupan itu sendiri.
Dalam hening malam Jawa yang pekat ini, tiba-tiba terdengar dari kejauhan, mungkin dari salah satu masjid di sekitar Keraton. Suara yang merdu mengingatkan pada kalimat "Innalillahi wa inna ilaihi roji'un" yang diucapkan berulang-ulang di rumah duka keluarga Mauludatul pada Sabtu pagi itu. Kalimat pengembalian dan kepasrahan, pengakuan bahwa kita hanyalah titipan yang suatu saat akan dikembalikan pada Sang Pemilik Kehidupan.
Ada yang aneh dan misterius dalam kehidupan ini—kita semua bergerak dalam arus yang sama, melintas di jalan-jalan yang serupa, namun takdir membawa kita ke tujuan yang berbeda-beda dan di waktu yang tak pernah kita duga. Di lorong Baluwarti ini, lampu-lampu kendaraan menerangi jalan seperti harapan yang menerangi kegelapan. Tetapi terkadang, seperti bagi Mauludatul Islami, cahaya itu meredup dan berganti dengan cahaya lain yang lebih abadi, cahaya yang tak bisa kita lihat dengan mata telanjang.
Saat mobilku berbelok ke sudut lain lorong Baluwarti, aku melihat sebuah rumah dengan pintu terbuka. Di dalamnya, beberapa orang duduk melingkar, mungkin sedang melakukan tahlilan atau sekadar berbincang dalam kehangatan malam. Mereka tidak tahu—seperti kita semua tidak pernah tahu—kapan giliran mereka tiba. Seperti keluarga Mauludatul yang pada Rabu malam masih berkumpul bersama, tak menduga bahwa esok hari mereka akan berkumpul di ruang tunggu IGD dengan wajah-wajah cemas.
Doa-doa yang mereka panjatkan untuk Mauludatul, "Allahummagh-firlahaa warhamnaa wa'aafihaa wa'fu 'anhaa" terasa begitu dekat dengan suasana malam Baluwarti yang penuh dengan mistis dan spiritual. Doa-doa itu bergema di lorong-lorong sempit, ditiup angin malam, mencapai tempat yang tak pernah kita ketahui. Mungkin doa-doa itu kini menjadi bintang-bintang di langit, menerangi perjalanan Mauludatul menuju tempat peristirahatannya yang abadi.
Dalam perjalanan melewati lorong Baluwarti malam ini, di antara lampu-lampu merah yang berkedip dan bayangan-bayangan yang menari di tembok putih, aku menemukan bahwa kita semua adalah Mauludatul. Kita semua adalah pengendara dalam perjalanan yang tak kita ketahui ujungnya. Kita semua adalah pelancong dalam kehidupan yang sementara, bergerak menuju tujuan akhir yang sama, hanya saja dengan jalur dan waktu yang berbeda-beda.
Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Di balik kemacetan dan hiruk pikuk jalan Baluwarti, ada pengingat halus bahwa kita semua adalah musafir, bergerak menuju tujuan akhir yang sama. Lampu-lampu merah di belakang motor-motor itu, seperti doa-doa yang dipanjatkan untuk Mauludatul, berkedip dalam gelap namun meninggalkan jejak cahaya yang tak mudah dilupakan—jejak yang mungkin akan terus menerangi hati orang-orang yang ditinggalkan.
Dan sementara mobilku terus bergerak pelan di lorong-lorong Baluwarti, di kejauhan terdengar sayup-sayup suara gamelan dari arah keraton—seperti pengantar kepulangan jiwa-jiwa ke tempat asal mereka, termasuk Mauludatul Islami yang kini telah kembali dalam pelukan keabadian.