Doanya Masih Sama

Sat, jangan lupa bahwa hidup ini adalah sebuah pesta kecil yang kita rayakan dengan cara kita sendiri. Kadang dengan secangkir matcha di sudut kota yang riuh, kadang dengan duduk diam di bawah lampu jalan, menyaksikan gerimis menari di atas aspal. Tidak semua hari berbintang terang, tidak semua pagi berwarna emas, tapi di antara pekatnya malam dan kelabu yang menggantung, selalu ada kita—tetap berjalan, tetap hidup.

Dunia ini tidak selalu bisa ditebak. Kadang ia memberimu sepotong roti yang masih hangat, kadang ia memberimu segenggam debu. Kita pernah tertawa sampai lupa waktu, pernah juga menangis tanpa suara. Pernah duduk di bangku panjang peron Stasiun Balapan, diam-diam berharap ada yang berubah begitu kereta melintas. Tapi perubahan bukan tentang perpindahan tempat, bukan tentang siapa yang datang atau pergi. Ia tentang bagaimana kita tetap menjadi diri sendiri meski waktu terus mengikis dan mengubah segalanya.

Teruslah berbuat baik dan pikirkan hal - hal baik. Jangan takut, Sat. Hidup ini bukan perlombaan. Tidak perlu tergesa-gesa, tidak perlu membandingkan langkah. Kita punya waktu kita sendiri, cara kita sendiri untuk menafsirkan dunia. Barangkali, di suatu pagi yang tenang, kita akan menemukan alasan mengapa semua ini layak dijalani. Untuk sekarang, mari kita lanjutkan. Satu langkah lagi, Sat. Dan satu lagi.

Sat, ingatkah kita akan sore itu? Langit di atas Surakarta terbakar jingga, dan angin membawa wangi tanah yang baru saja disiram hujan. Kita duduk di bawah pohon trembesi tua di alun-alun kidul, berbagi gorengan yang kita beli dari warung kecil di ujung jalan. Waktu berjalan pelan saat itu, seolah semesta memberi kita jeda untuk bernapas. Kita tidak banyak bicara, hanya menikmati detik-detik yang mengalir, mendengar anak-anak berlarian, pengamen yang bernyanyi dengan gitar setengah sumbang, dan suara sepeda ontel tua yang berderit setiap kali melewati jalanan yang basah.

Kita memang tidak selalu bahagia, Sat. Tapi ada hal-hal kecil seperti itu yang membuat hidup tetap hangat. Ada tawa yang singkat, ada senja yang indah, ada rasa yang sulit dijelaskan ketika melihat lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu. Kita pernah berjalan tanpa tujuan, melewati gang-gang kecil yang berliku di Baluwarti, menelusuri lorong-lorong kota yang menyimpan cerita. Kadang, kita berhenti di warung angkringan, memesan teh manis panas, mendengar percakapan orang-orang yang entah mengapa terasa lebih jujur di bawah cahaya lampu minyak.

Surakarta selalu punya cara untuk merangkul kita, Sat. Kadang dalam bentuk aroma sate kambing yang mengepul dari pinggir jalan, kadang dalam senyum ramah penjual jamu gendong yang suaranya seperti nyanyian ibu di pagi hari. Di kota ini, kita pernah jatuh, pernah kecewa, pernah merasa dunia begitu sempit dan tak berpihak. Tapi lihatlah, kita masih di sini. Lebih kuat dari yang kita kira, lebih bijak dari yang kita sadari.

Jadi, teruslah berjalan, Sat. Hari-hari di depan mungkin belum tentu lebih mudah, tapi bukankah kita sudah terbiasa? Tidak ada yang benar-benar bisa menjelaskan bagaimana hidup ini bekerja, tapi satu hal yang kita tahu pasti: kita masih punya langkah. Dan selama kita masih bisa melangkah, dunia ini tidak akan bisa benar-benar mengalahkan kita.

Doanya masih sama, semoga tidak menjadi tua dan menyebalkan. Sat, terimakasih telah bertahan sejauh ini. Kita telah melewati badai yang tak terhitung jumlahnya, menelan pahit yang tak selalu bisa diceritakan, dan tetap berdiri meski dunia tak selalu ramah. Tidak semua hari mudah, tapi lihatlah, kita sudah di sini—lebih kuat, lebih bijak, dan lebih memahami arti melangkah. Teruslah berjalan, teruslah hidup, sat.

Malam ini, kita makan mie yang dalam budaya Tionghoa disebut shòu miàn—mie panjang umur. Hidangan sederhana tapi penuh makna. Kuahnya bening, mie-nya kenyal, dan potongan ayam panggang tersusun rapi di atasnya, dengan sejumput daun bawang dan sayur hijau sebagai pelengkap.

Di sekelilingmu, suara orang bercakap-cakap, denting sumpit yang bersentuhan dengan mangkuk, dan aroma masakan yang menggantung di udara. Iliana di kursi biru tengah menikmati makan malamnya, sesekali menyeruput air dari botol dengan mata terpejam, seolah dunia bisa menunggu sejenak. Nana duduk di sampingnya, mengawasi dengan sabar. Momen-momen kecil seperti ini, entah bagaimana, terasa hangat.

Mie panjang umur ini bukan sekadar makanan. Ia adalah harapan, doa yang tak terucapkan untuk hari-hari yang lebih baik. Kita menyeruputnya perlahan, membiarkan rasa meresap, membiarkan malam berlalu dengan tenang. Tidak ada yang perlu tergesa-gesa. Selama mie ini masih ada di hadapanmu, selama kita masih bisa menikmati suap demi suap, hidup ini tetap bergerak maju—panjang, seperti mie itu sendiri. Teruslah hidup, teruslah mendengar orang lain, teruslah berbuat baik, teruslah menulis, teruslah bermain musik, teruslah menyanyi, terimakasih atas kerja kerasmu sejauh ini, sat.