Hari ini, aku tidak ingin menulis apapun. Ada sesuatu yang mengganjal, seolah semesta sedang memelukku dengan pelukan yang begitu rapat, sehingga aku hampir tak bisa bernapas. Tak ada angin yang bergerak, tak ada suara yang terdengar. Bahkan burung-burung pun enggan berterbangan di langit. Seperti semua hal menahan diri, diam seribu bahasa. Dan aku, di tengah kesunyian itu, merasa terhimpit oleh dunia yang terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.
Biasanya, aku selalu merasa tenang ketika menulis. Seperti seorang pelukis yang sedang menciptakan dunia dalam kanvasnya, aku menulis untuk menciptakan realitas baru, untuk mengekspresikan segala keresahan dan harapan yang berkelindan dalam hatiku. Tapi hari ini, kata-kata seolah menghindar dariku. Pena yang selalu setia menari di atas kertas terasa berat, seolah enggan menyentuh permukaan itu. Kertas yang biasanya begitu penuh dengan makna kini kosong, seperti ruang hampa yang menunggu untuk diisi, namun tak ada yang datang untuk mengisinya.
Aku teringat pada masa kecilku, di sebuah desa yang terletak di ujung dunia, tempat yang hampir tak tersentuh oleh modernitas. Di sana, orang-orang hidup dengan cara yang sederhana. Mereka tidak terburu-buru mengejar waktu, karena waktu seperti berjalan lebih lambat, lebih sabar. Namun, di antara ketenangan itu, aku selalu merasa ada yang lebih dalam, yang lebih luas, yang tak bisa dijangkau hanya dengan mata atau telinga. Itulah kenapa aku menulis, untuk mencari dan merangkai segala yang tak terjangkau itu. Setiap huruf yang kugoreskan adalah upaya untuk menangkap kepingan-kepingan dunia yang tersembunyi. Namun, hari ini, aku merasa seperti anak kecil yang kehilangan kunci menuju dunia itu.
Aku ingin menulis tentang senja yang jatuh perlahan di desa itu, tentang embun yang menghangatkan pagi, tentang suara-suara alam yang menyatu dengan irama hati. Tapi semua itu terasa seperti bayangan yang jauh, semakin menjauh seiring waktu. Semua hal yang biasanya kutulis dengan penuh semangat kini terasa begitu sulit untuk diungkapkan. Ada semacam kepahitan dalam tiap langkahku menuju kertas, seperti seorang penari yang kehilangan iramanya, atau seorang penyair yang lupa bait pertama puisinya.
Ada sebuah kekosongan yang terasa begitu dalam. Bukannya aku tidak ingin menulis, tapi justru karena aku terlalu ingin menulis, aku merasa terhalang. Kata-kata yang dulu mengalir deras kini seperti sungai yang mendatar, tidak ada lagi derasnya arus, tidak ada lagi riak-riak kecil yang mengiringi perjalanannya. Aku merasa seperti terjebak di antara dunia nyata dan dunia imajinasiku, tak bisa menulis, namun juga tidak bisa melepaskan diri dari keinginan untuk menulis.
Namun, ada keindahan dalam kesendirian ini. Ada keheningan yang, meskipun sepi, penuh dengan potensi. Mungkin aku hanya perlu sedikit waktu untuk merasakan dan merenung, untuk membiarkan diriku tenggelam dalam kebisuan sebelum akhirnya menemukan kembali kata-kata yang hilang itu. Bukankah kita selalu merasa begitu, terkadang, sebelum menemukan apa yang kita cari? Kita merasa kosong, kita merasa seperti terdampar di lautan luas, namun ketika kita berhenti sejenak, kita mulai mendengar suara-suara halus yang mengarahkannya.
Aku tahu, suatu saat nanti, tulisan ini akan datang dengan sendirinya. Seperti hujan yang tak pernah tahu kapan akan turun, namun begitu pasti bahwa ia akan datang. Aku hanya perlu menunggu, memberikan ruang bagi diriku untuk meresapi setiap detik yang berlalu, memberi waktu bagi perasaan-perasaan yang tertahan untuk keluar dengan cara yang paling alami. Aku akan menulis lagi, tapi bukan hari ini.
Hari ini, aku hanya ingin duduk, terdiam, dan meresapi segala yang ada di sekitarku. Tak ada kata-kata yang perlu kutulis, tak ada kalimat yang perlu kuungkapkan. Hari ini, aku hanya ingin merasakan keheningan ini, karena di dalam diam, ada banyak hal yang tak perlu dijelaskan, cukup dirasakan saja. Mungkin, dengan begitu, aku akan menemukan kembali kata-kata yang hilang itu.