Malam itu, Iliana kecilku duduk dengan senyum yang mencerahkan seluruh ruangan. Di atas permadani tua bercorak yang menyimpan sejuta cerita, permadani yang mungkin pernah menjadi saksi bisu peradaban masa lampau, putri kecilku memegang kuas dengan percaya diri yang membuat hatiku bergetar.
Cahaya lampu rumah yang lembut memeluk figurnya yang mungil, menciptakan bayangan halus yang menari di dinding. Rambutnya yang cokelat masih basah, setelah mandi malam yang menyegarkan. Tetes-tetes air yang tersisa di rambutnya berkilau seperti embun di malam penuh bintang. Ah, betapa Iliana mengingatkanku pada diriku di masa kecil—penuh keingintahuan dan tanpa beban.
Mata berbinar Iliana menatap kanvas di hadapannya seolah melihat dunia ajaib yang hanya dia yang dapat memahaminya. Dunia penuh warna dan imajinasi yang tak terbatas. Dunia di mana badut bisa terbang dan ikan bisa bernyanyi. Dunia yang begitu murni, jauh dari kepalsuan dan kemunafikan orang dewasa.
Nampan berisi warna-warni cat adalah alam semestanya sekarang. Merah menyala seperti semangat yang berkobar dalam jiwanya. Hijau sejuk seperti dedaunan di hutan belantara imajinernya.
Tangannya yang mungil menari di atas lukisan dengan ketelitian yang mengagumkan untuk usianya. Jari-jemarinya yang lentik menggenggam kuas layaknya seorang maestro orkestra mengendalikan batutanya. Kadang aku bertanya-tanya, dari mana keberanian dan keyakinan itu datang? Mungkinkah itu warisan dari neneknya yang pernah menjadi pelukis terkenal di kampung kami dulu? Atau mungkin itu hanya kekuatan alam bawah sadar seorang anak yang belum mengenal takut akan kegagalan?
Iliana kecilku, mungkin dia tidak tahu bahwa setiap goresan kuasnya adalah puisi bagi bapaknya. Setiap percikan warna adalah sajak yang menari-nari di udara malam yang sunyi. Setiap senyumnya adalah rembulan yang menerangi malam-malam gelapku setelah seharian bekerja bagai kerbau di sawah kehidupan. Dalam diam, aku menyaksikan buah hatiku menciptakan dunianya sendiri—penuh warna, keberanian, dan harapan tak berbatas.
Permadani tua itu, dengan motif geometris yang rumit, seakan berbisik padaku tentang perjalanan hidup. Bahwa hidup, seperti pola-pola itu, kadang terlihat tidak beraturan dari dekat. Namun bila kita mundur dan melihatnya dari kejauhan, semuanya membentuk harmoni yang memukau di bawah naungan malam.
Suatu hari nanti, tangan mungil yang kini memegang kuas itu akan menulis takdirnya sendiri. Mungkin akan menjadi dokter yang menyembuhkan penyakit. Mungkin akan menjadi guru yang mencerdaskan generasi. Atau mungkin akan menjadi musisi yang menggetarkan jiwa. Apapun itu, aku tahu, Iliana kecilku akan memberikan warna pada dunia yang kadang terasa hitam putih ini.
Dan aku akan selalu di sini, dengan secangkir teh yang mengepul di tangan, menyaksikan Iliana kecilku tumbuh menjadi lukisan terindah yang pernah diciptakan Tuhan di kanvas kehidupan. Karena pada akhirnya, bukankah kita semua hanya kuas di tangan Sang Pencipta, yang melukis takdir kita dalam keheningan malam?