Lebaran di Tanah Kenangan

Pagi Idulfitri adalah pagi yang berbeda. Udara di Lapangan Widoro terasa lebih segar dari biasanya, seolah embun malam tadi membawa serta kesucian yang baru. Dari rumah-rumah kecil di gang-gang sempit hingga pekarangan luas dengan pohon mangga tua, semua orang melangkah dengan hati ringan menuju lapangan. Di langit, takbir berkumandang, menggema di antara dinding rumah-rumah yang menguning oleh waktu. Aku berjalan dengan masih mengusap mataku yang kantuk.

Lapangan Widoro pagi itu seperti lautan manusia. Ada yang memakai baju baru, ada yang sederhana, tapi semua berseri-seri dalam cahaya mentari yang mengintip malu-malu di balik awan. Orang-orang berbaris, bersaf-saf dalam doa yang sama, tunduk dalam sujud yang sama, meski tak diucapkan, dalam hati semua orang ada syukur yang tak terkatakan.

Selesai salat, kami mengikuti arus manusia yang perlahan bergerak pulang. Jalanan yang tadi lengang kini penuh dengan suara salam dan tawa kecil anak-anak yang berlarian dengan uang Lebaran di tangan. Di rumah, kami melakukan ritual tahunan: saling bermaafan. Aku mencium tangan bapak dan ibu, dan Iliana—tanpa benar-benar mengerti maknanya—ikut menempelkan tanganku ke pipinya, seolah ia juga ingin meminta maaf.

Lalu, kami berfoto di depan rumah. Aku mengangkat Iliana tinggi-tinggi, tawa kecilnya membahana, matanya berkilat seperti sebutir embun yang menangkap sinar matahari. Nana berdiri di sampingku, tersenyum lembut. Aku ingin membekukan momen ini, menjadikannya bagian dari ingatan yang tak lekang oleh waktu.

Hari berjalan seperti sungai yang mengalir tenang. Rumah Kepuh menjadi tempat sepi, tempat kami berdiam tanpa urgensi, tanpa kesibukan. Kami duduk di ruang tamu yang teduh, mengobrol tentang hal-hal kecil, menikmati sisa pecel dan opor yang aromanya masih menguar di udara. Ada rasa damai yang tak bisa dijelaskan, seperti menemukan kembali rumah setelah sekian lama bekerja.

Sore hari, aku merasa gelisah. Terlalu lama diam membuat kakiku gatal ingin melangkah. Maka aku mengajak Nana dan Iliana berjalan-jalan ke Bendung Colo. Di perjalanan, kami melewati sawah-sawah hijau yang membentang luas, tempat angin bermain-main di antara padi yang mulai menguning. Sampai di bendungan, air mengalir deras, memantulkan cahaya senja yang berangsur turun. Iliana ku gendong, ia berteriak kecil di pinggirnya, tangannya terentang seperti burung kecil yang baru belajar terbang.

Sebelum pulang, kami mampir ke sebuah kafe kecil di sudut Kota Sukoharjo: Satu Kenangan. Namanya seperti sebuah puisi yang terlontar tanpa sengaja. Aku memesan secangkir kopi, menyesapnya perlahan. Ada rasa pahit yang menenangkan, seperti sebuah nostalgia yang datang tiba-tiba. Aku menatap Nana, yang sedang menyuapi Iliana setusuk cilok isi telur puyuh. Aku menatap ke luar jendela, ke lampu-lampu jalan yang mulai menyala, ke kendaraan yang lalu lalang, ke kehidupan yang terus berjalan. Aku menyadari sesuatu: tidak ada yang benar-benar pergi dalam hidup ini, semuanya hanya berpindah tempat, berubah bentuk menjadi kenangan.

Saat kami kembali ke rumah, suasana berubah. Rumah yang tadi sepi kini penuh suara tawa. Fatih, Anisa, Hasna, dan Hanum—keponakan-keponakanku—telah datang. Mereka berlari-lari di dalam rumah, suara mereka bercampur dengan suara televisi yang menyala. Iliana ikut bergabung, tawanya memenuhi ruangan. Nana menatap mereka dengan mata lembut seorang ibu.

Aku duduk di sudut ruangan, memandangi mereka. Ada sesuatu yang hangat menjalar di dadaku. Ini adalah momen-momen kecil yang sering terlupakan, yang luput dari foto-foto yang kami ambil, tapi justru inilah yang paling berarti. Lebaran bukan hanya tentang kemenangan setelah berpuasa sebulan. Lebaran adalah tentang pulang. Pulang ke rumah, pulang ke keluarga, pulang ke hati yang lapang.

Dan malam itu, saat Iliana tertidur di pelukan Nana, aku menyesap kopi yang tersisa dari sore tadi. Pahitnya sudah berubah, kini hanya tersisa rasa manis yang tipis. Seperti kenangan. Seperti hari ini.